Selasa, 24 Maret 2009

Apa pun hasilnya, Aku siap!

Apa pun hasilnya, aku siap. Apa pun hasil dari semua terapi ini, aku siap menerimanya. Tapi tetap saja masih ada keinginan untuk melanjutkan study dan mengejar cita-cita, membahagiakan orang tua dan keluarga serta membuat mereka bangga.

Jumat, 20 Maret 2009

Umur Di Tangan Tuhan

Hari ini, hari kedukaan. Salah seorang temanku dipanggil pulang oleh Tuhan. Dia meninggal karen kecelakaan, padahal baru saja dia jadian sama cewenya 2 hari, dan itu pun tadi pagi dia baru mau jemput cewenya buat berangkat ke kampus bareng, belum sampai di kos-an cewenya, dia sudah dipanggil Tuhan duluan.

Aku berpikir, kasian sekali. Umurnya pendek, padahal cita-cita dan semangat belajarnya tinggi. Kenapa ya.. Tuhan panggil dia secepat itu? Apakah Tuhan juga akan panggil saya secepat itu?

Selasa, 17 Maret 2009

Aku Gak Akan Mengeluh..

Kemarin aja, aku baru diterapi. Makanya minta izin cuti satu minggu gak masuk kuliah alasan sakit. Aduh, rasa sakitnya gak ada yang ngalahin. Sampai-sampai gak bisa diungkapkan pakai kata-kata. Hanya diam, dan mengepalkan tangan saja yang bisa aku lakuin. Tapi aku punya prinsip, aku gak akan mengeluh sakit di depan keluargaku. Bagaimana pun, jika aku senyum saja itu lebih baik. Karena senyuman dari dalam diriku sendirilah yang menguatkan aku dan semua orang di sekitarku.

Jumat, 13 Maret 2009

Obat Tradisional Tidak Ampuh, Akhirnya Aku Menyerah Juga...

Ada saja ide mamah. Aku tidak mau terapi, obat tradisional pun jadi. Pahitnya minta ampun, tapi demi mamah, aku jalani tanpa banyak bicara. Hasilnya, malah membuat perut mules-mules gak karuan. Akhirnya, kemarin mamah bicara ke aku sambil menangis, mamah bilang aku harus terapi, ya.. mau bagaimana lagi, gak tahan ngeliat mamah yang sekarang sering menangis dan selalu murung, akhirnya aku mengangguk, tanda setuju. Mamah tersenyum bahagia, ya.. mungkin ini hal terakhir yang bisa aku lakuin untuk mamah dan keluargaku, setidaknya membuat mereka berpengharapan.

Sabtu, 07 Maret 2009

Agh...

Aduh, sakit bangetlah. Kambuh lagi nih.. Tapi aku gak mau panggil siapapun ke kamar aku. Duh, gak kuat.

Jumat, 06 Maret 2009

Aku Tahu Itu Baik, Tapi Aku Belum Bisa Melakukannya

Seminggu ini aku pergi ke luar negeri, buat check up yang lebih detail. Hasilnya tetap aja sama kaya di sini. Makanya aku langsung pulang .
Rencananya, papah mau sekalian nemenin aku terapi di sana, tapi aku belum siap diterapi. Semua keluargaku kecewa dengan keputusanku. Aku tahu itu baik, tapi aku benar-benar belum siap melakukannya. Aku belum siap diterapi bukan karena aku mau mengalah begitu saja dengan maut, tapi aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku sakit begini saja, sudah merepotkan orang lain, apalagi ditambah nahan rasa sakit diterapi? Pasti merepotkan orang lain. Huft..

Sabtu, 28 Februari 2009

Wuahahaha...

Oh my God! Aku tuh tadi beneran kabur, terus makan siang bareng gebetan dan jalan-jalan! Mengejutkannya lagi, dia 'tuh bilang gini :
"Kamu kok tangannya diplester, kaya abis di infus aja!" O..ou.. Aku cuma tersenyum saja.

Pulang-pulang, ya.. aku balik ke rumah. Papah dan kakak sedang sibuk dengan teleponnya, Mamah dan ade hanya duduk menangis dengan cemas. Lalu aku nongol gitu aja di depan mereka, mereka memandang aku dengan serius, lalu papah melotot, dan mulailah aku dimarahi :
"Kamu itu kemana aja sih? Semua khawatir nyariin kamu! Ditelpon gak diangkat-angkat, disms gak dibales! Kamu kemana? Naik apa? Sama siapa? Kamu ini gimana sih, lagi sakit malah keluyuran, kemarin kamu denger sendiri 'kan.. Dokter bilang kamu harus istirahat full!! Kamu itu ya.. keras kepala! Papah gak ngerti apa sih yang ada di pikiranmu?"
Aku hanya tersenyum. Lalu papah tambah melotot, akhirnya aku menunduk.
Seperti biasa, kalau sedang dimarahi, kakak pasti ngebela aku. Kali ini bukan kakak saja yang ngebela, tapi mamah juga.
"Sudahlah, Pah. Biarin ade istirahat dulu. Kasian dia capek."
Terus mamah nerusin,
"Papah gak usah marah begitu. Mungkin dia jenuh di RS dan nyari suasana baru. Sudahlah."

Yess... Aku dibela :D Jadi aja, papah kalah. hhe..

Apa tidak Akan Berdampak Buruk?

Papah, mamah, kakak, ade lagi pergi keluar. Katanya mau pulang bawa baju bersih untuk aku, dan beli makanan siang dulu. Ya, sepi sekarang.
Aku mau kabur rasanya dari penjara ini. Kabur dari RS, apa tidak akan berdampak buruk ya? Entahlah.. Huumm...
Oh, ia.. Lagipula kalau aku keluar sebentar, dan nanti sore balik ke sini lagi, mungkin tidak apa-apa. :D Aku punya ide! Aku pergi makan siang dan nonton aja bareng gebetanku. :D
Ya, gimana juga, kalau ada orang yg di posisi aku, dia juga akan jenuh, jenuh dengan hidup dalam penyakit ini, jenuh harus bermalam di RS.

Jumat, 27 Februari 2009

Ini yang Paling Gw Benci

Tadi pagi, pas mau berangkat nganterin ade *tumben mau nganterin*.. Penyakit aku kumat lagi, kali ini gak tahan banget aku. Tiba - tiba, *rep.. rep.. rep.. gubrak. Gak tau gimana lagi, yang pasti aku bangun dan sampai sekarang aku nulis blog pake PDA, aku 'nih lagi di RS. Hancur semua! Papah mamah kakak dan ade, akhirnya tau semua. Ini yang paling gw benci! Huft.. Mamah dan ade dari tadi nangis ajah.. Kakak langsung dateng dari luar kota ke RS.. Papah dan kakak juga membisu. Kenapa kejadian ini sampe terjadi, aku gak mau buat mereka sedih atau khawatir. Aku gak mau jadi beban buat mereka.
Tuhan, kalau Tuhan berkehendak, maafkan aku.. semua kesalahan aku.. dan aku bersedia, jika sekarang juga Tuhan ambil nyawaku. Aku gak mau menjadi beban buat mereka. Biarlah aku yang mengalah, agar mereka dapat meneruskan hari-harinya dengan bebas, tidak harus menanggung segala kesusahan akibat aku. Dan biarlah hari-hari mereka bahagia hingga akhir nanti..

Selasa, 24 Februari 2009

HUFT...

Shit banget kalau selama ini aku gak pernah nulis tentang apa yang aku rasakan sebenernya. Aku ngerasa Tuhan 'tuh gak adil. Sebelum semua cita-citaku tercapai, Tuhan sudah memberi penyakit ini buat aku. Tuhan sama sekali gak adil. Aku harus nahan rasa sakit ini dan harus nyembunyiin semua ini dari orang-orang. Kenapa harus aku sih? Walaupun terkadang, saat rasa sakit itu tidak muncul aku masih bisa berpikir secara rasional, Tuhan sebenernya baik. Tapi, tetap saja, setiap hari aku harus nahan rasa sakit itu, dan setiap hari pula aku merasa Tuhan gak pernah adil buat saya.

Senin, 23 Februari 2009

Hanya ingin berjalan dengan lancar . . . merahasiakannya jalan yang terbaik . . .

Aku sudah ganti nomor handphone, soalnya selalu saja di telpon pihak RS. Bukan karena waktu itu belum bayar, aku sudah bayar cash, ini lain ceritanya. Dokternya itu mengharuskan aku buat tes lanjutan dan tentunya terapi. Ya jelas, mana mungkin aku mau? Aku gak mau menjalani pengobatan apa pun. Kalau terapi 'kan kemungkinan besar keluargaku tau soal kondisiku yang sekarang. Aku mau semua ini, sisa hidupku ini berjalan lancar saja, tanpa diketahui siapapun. Lagipula, mana mungkin biaya terapi itu aku tanggung sendiri dengan uang jajanku?

Mungkin orang yang baca blog aku ini akan bingung, mana mungkin aku bisa merahasiakan penyakit ini dari keluarga. Ya.. jujur, saya anak tengah dari 3 bersaudara. Orang tua saya sibuk sekali mengurusi bisnisnya, kakak laki-laki saya sudah bekerja diluar kota, di rumah tinggal saya dan adik perempuan saya. Biarpun saya dekat dengan adik saya, tetapi mudah untuk mengelabuinya, dia masih kecil, belum terlalu teliti :D .

Minggu, 22 Februari 2009

Apakah ini menjadi yang terakhir kali ?

Hari ini aku pelayanan di gereja. Apakah ini menjadi yang terakhir kalinya bagi aku? Huft.. entahlah. Hari-hari ke depan akan lebih sulit daripada kemarin. Terkadang aku berpikir, mengapa hidupku harus begini? Mengapa harus aku? Tetapi, percuma saja aku berpikir seperti itu. Sisa waktu ini lebih baik dipergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Sabtu, 21 Februari 2009

Sampai kapan aku bisa menyimpan ini semua?

Sudah 14 hari berlalu, sampai kapan aku bisa menyimpan ini semua? Sementara hari demi hari kondisiku memburuk. Aku benci sekali kondisi ini, tapi apa yang bisa aku perbuat? Aku tidak mau mereka semua tau kondisi aku yang sebenernya. Sudah cukup masalah mereka, tidak perlu aku tambah - tambah lagi. Aku cukup menepati janjiku dan membahagiakan mereka di sisa hidup ini.

Sabtu, 14 Februari 2009

yang aku lakukan di hari kasih sayang

Tadi, aku nonton bareng gebetanku. Menyenangkan.. Mungkin aku bukan orang yang romantis, sehingga aku tidak memberikannya coklat ato kado apapun, hanya sekedar menonton bareng.

Jumat, 13 Februari 2009

7 Februari 2009

Temanku, yang menolongku kemarin, untung saja menjengukku di pagi hari, dan membawakan pakaian bersih miliknya untuk dipinjamkan kepadaku. :D Hari itu hari yang bersejarah dalam hidupku. Hasil test kesehatanku buruk. Dan hasil itupun yang menakar sisa hidupku. Sekarang, tiap waktu, tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik, itu berarti sekali untukku.

6 Februari 2009

Sudah beberapa kali aku merasakan sakit kepala yang luar biasa, itu aku rahasiakan dari orang-orang, aku pikir walaupun rasanya luar biasa, tetapi itu tetap sakit kepala yang biasa saja. Waktu itu (6 Februari 2009), aku mengendarai mobilku, baru beberapa meter dari kampus, sakit kepalaku kambuh lagi. Aku menepi, tidak mau ambil resiko. Salah seorang temanku sedang berjalan di trotoar, persis di samping mobilku, dan temanku melihat aku saat aku sedang kesakitan. Dia mendekati mobilku dan membuka pintu sebelah kiri yang memang tidak aku kunci, lalu dia bertanya tentang keadaanku, seketika itu juga aku langsung pingsan. Entah apa yang terjadi seterusnya. Aku tersadar di RS, temanku yang membawa aku ke situ. Aku disuruh bermalam di RS, karena esok harinya aku harus mengikuti beberapa tes kesehatan. Tak satupun keluarga yang aku beritahu, aku hanya mengirim SMS; Aku hari ini menginap di rumah teman, ada kerja kelompok.

-Blog yang kubuat ini pun, tidak seorangpun dari anggota keluarga aku yang tahu.-